Guru SMPN Kramatwatu mencitakan meode "Pohon Karakter" dan mendapat Penghargaan dari KPK
SERANG - Dewi Kusumaningrum, guru SMPN 1 Kramatwatu, Kabupaten Serang, membuat metode pembelajaran IPA bernama 'Pohon Karakter'. Metode pembelajaran pemberantasan korupsi itu berhasil meraih juara pertama dalam lomba yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lembaga anti rasuah ini memberikan penghargaan kepadanya pada Selasa (09/12/2014) lalu. Ia menerima penghargaan yang diberikan langsung oleh Ketua KPK Abraham Samad setelah bersaing dengan 300 peserta dari seluruh Tanah Air.
Alumni Jurusan Fisika Universitas Brawijaya tersebut mengaku mendapatkan inspirasi metode 'Pohon Karakter' tersebut dari Alquran. Dewi menceritakan bahwa dalam ayat suci Alquran bertebaran ayat-ayat Allah SWT yang mengatakan bahwa manusia dapat belajar dari alam semesta. "Contoh gampangnya daun yang berfotosintesis itu kan mandiri, kita bisa belajar kemandirian dari daun yang bisa menciptakan makanannya sendiri," ungkapnya menceritakan salahsatu pelajaran yang bisa dipetik dari pohon.
Dikatakan, metode Pohon Karakter itu replika dari pohon yang dihubungkan dengan pembelajaran karakter sikap anti korupsi. "Cara belajarnya siswa memilih kartu bertuliskan sifat yang berhubungan dengan anti korupsi," jelasnya. Dewi berharap Pohon Karakter dapat diajarkan di seluruh sekolah.
LTUB (Latihan Tata Upacara Bendera)
Tim upacara bendera SMPN 1 Kramatwatu unjuk kebolehan
keterampilan upacara bendera dalam rangka Lomba Tata Upacara Bendera (LTUB) di
lapangan sekolah di Jalan Raya Serang- Cilegon, Kramatwatu, Senin (8/9).
SERANG - SMPN 1 Kramatwatu, Kabupaten Serang, siap
mempertahankan juara 1 Lomba Tata Upacara Bendara (LTUB). Sebelumnya, sekolah
yang beralamat di Jalan Raya Serang-Cilegon ini berhasil merengkuh juara umum
LTUB tahun 2013 tingkat Provinsi Banten.
Kepala SMPN 1 Kramatwatu yang juga tim pembina LTUB Yana Suryana mengatakan, untuk mencapai target tersebut tim LTUB SMPN 1 Kramatwatu menggelar latihan rutin tiap hari di lapangan sekolah setempat. "Usai kegiatan belajar mengajar tiap hari kami rutin latihan," ujar Yana, kepada Banten Raya, di ruang kerjanya, Senin (8/9). Ia mengakui untuk mempertahankan prestasi tahun sebelumnya tidaklah mudah. Pasalnya, selain faktor internal pihaknya pun harus melawan faktor eksternal. "Untuk menjadi juara satu tingkat provinsi harus menjadi juara di tingkat kabupatennya dulu. Baru setelah itu dilombakan lagi di tingkat provinsinya," jelas dia.
Yana mengungkapkan, tim LTUB SMPN 1 Kramatwatu berjumlah seratus orang yang terdiri dari; Tura (pengatur upacara, pasukan peserta upacara, pembaca acara (MC), pasukan pengibar bendera, pembaca teks UUD, pembaca teks doa, paduan suara, pasukan kelas 7, pasukan kelas 8, pasukan kelas 9, pasukan guru dan pembina. "LTUB materinya lengkap ada fisik, seni dan mental dan keagamaan. Makanya disebut juga multiekskul," ungkap dia. (harir)
Kepala SMPN 1 Kramatwatu yang juga tim pembina LTUB Yana Suryana mengatakan, untuk mencapai target tersebut tim LTUB SMPN 1 Kramatwatu menggelar latihan rutin tiap hari di lapangan sekolah setempat. "Usai kegiatan belajar mengajar tiap hari kami rutin latihan," ujar Yana, kepada Banten Raya, di ruang kerjanya, Senin (8/9). Ia mengakui untuk mempertahankan prestasi tahun sebelumnya tidaklah mudah. Pasalnya, selain faktor internal pihaknya pun harus melawan faktor eksternal. "Untuk menjadi juara satu tingkat provinsi harus menjadi juara di tingkat kabupatennya dulu. Baru setelah itu dilombakan lagi di tingkat provinsinya," jelas dia.
Yana mengungkapkan, tim LTUB SMPN 1 Kramatwatu berjumlah seratus orang yang terdiri dari; Tura (pengatur upacara, pasukan peserta upacara, pembaca acara (MC), pasukan pengibar bendera, pembaca teks UUD, pembaca teks doa, paduan suara, pasukan kelas 7, pasukan kelas 8, pasukan kelas 9, pasukan guru dan pembina. "LTUB materinya lengkap ada fisik, seni dan mental dan keagamaan. Makanya disebut juga multiekskul," ungkap dia. (harir)




























